Community Empowerment dan Product Branding “SEKHUIT” Makanan Khas Daerah Lampung

Dasrun Hidayat, Titin Suhartini.

Abstract

Artikel ini fokus membahas tentang pemberdayaan komunitas (community empowerment) masyarakat rantau. Tujuannya untuk mengetahui optimalisasi keberadaan komunitas sebagai pendekatan dalam memperkenalkan merek (brand) makanan "sekhuit" khas daerah Lampung. Komunitas yang dimaksud yakni masyarakat rantau yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Lampung Bandung (IKLB). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi etnografi public relatons. Studi yang berfokus pada kajian budaya dengan pendekatan teori public relations. Melibatkan masyarakat rantau Lampung yang tergabung di dalam IKLB, penelitian ini menghasilkan bahwa produk "sekhuit" merupakan identitas merek (brand name) produk makanan khas daerah Lampung. Brand identity dibangun oleh nama merek (brand name) dan kepribadian merek (brand personality). Ikatan hubungan budaya menyebabkan brand "sekhuit" melekat kuat di kalangan internal meskipun mereka berada di tanah rantau. Kondisi ini juga diperkuat oleh pola perilaku masyarakat Lampung yakni gemar berkumpul, bersama-sama (nengah-nyampokh) sambil menikmati menu favorit "sekhuit". Realitas yang dikonstruksi melalui kegiatan community empowerment dalam mengelola brand product, mampu memperkuat ikatan budaya Lampuang di tanah rantau. Secara perlahan community empowerment juga mampu membantu memperkenalkannya di lingkungan eksternal. Upaya yang dilakukan dengan membentuk program usaha di bidang kuliner resto "sekhuit" Lampung. Usaha yang mengedepankan hubungan budaya (cultural relationship) sebagai metode community empowerment.

Author Biography

Dasrun Hidayat Hidayat, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas BSI
Fakultas Ilmu Komunikasi

References

Alifahmi, Hifni. (2012). Integrated Communication Branding dari Personal, Corporate Branding Menuju Country Reputation. Proceeding Strategi Communication Branding di Era Industri Kreatif. ISBN. 978-602-203-124-0, 1-21.

Ardianto, Elvinaro. (2013). Hand Book of Public Relations. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Bailey, N., & Pill, M. (2011). "The Continuing Popularity of the Neighbourhood and Neighbourhood Governance in the Transition from the ‘Big State’to the ‘Big Society’paradigm". Environment and Planning C: Government and Policy, 29(5), 927942.

Brady, Dombrowski, Li. (2018). Working toward Empowering a Community: How Immigrant-Focused Nonprofit Organizations Use Twitter during Political Conflicts. Group 18, Sanibal Island USA. ACM ISBN 978-1-4503-5562-9. https://doi.org/10.1145/3148330.3148336.

Dawes, J., Mundt, K., Sharp, B. (2009). Consideration sets for financial services brands. Journal of Financial Services Marketing, 14 (3), 190-202.

Grimm, C. (2011). Community Empowerment Manual (2nd ed.). Washington, D.C.: Partners for Livable Communities.

Hardyantoro, Prianti, (2012). Peran Website Sebagai Penjunjang City Branding Yogyakarta. Proceeding Strategi Communication Branding di Era Industri Kreatif. ISBN. 978-602-203-124-0, 79-105.

Hidayat, Kuswarno, Zubair, Hafiar. (2017). The IPPAR Model sebagai Komponen Etnografi PR pada Kajian Public Relations Berbasis Budaya. Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogjakarta. 15 (1), 60-72.

____________________________ (2017). Negosiasi Citra Budaya Masyarakat Multikultural. Jurnal Komunikasi ASPIKOM. 3 (2), 157-172.

____________________________ (2014). Representasi Nemui-Nyimah Sebagai Nilai-Nilai Kearifan Lokal: Perspektif Public Relations Multikultur. Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Riau. 5 (1), 90-102.

Hidayat, Dasrun. (2014). Media Public Relations. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Jaan Lee, Yung. (2017). Building Resilient Cities trough Community Empowerment: Principles and Strategies for Taiwan. IRSPSD International, 5 (2), 35-46.

Jalkala, Kernen. (2014). Brand positioning strategies for industrial firms providing customer solutions. Journal of Business & Industrial Marketing. 29 (3), 253-264.

Jewell, Saenger. (2014). Associative and dissociative comparative advertising strategies in broadening brand positioning. Journal of Business Research. (67), 1559-1566.

Malik, Sudhakar (2014). Brand Positioning Through Celebrity Endorsement – A Review Constribution to Brand Literature. International Review of Management and Marketing. 4 (4), 259-275.

Murfianti (2012). Pencitraan Solo melalui Event Karnaval sebagai upaya Destination Branding Wisata Budaya. Proceeding Strategi Communication Branding di Era Industri Kreatif. ISBN. 978-602-203-124-0, 65-77.

Pettit, J. (2012). Empowerment and Participation: Bridging the Gap between Understanding and Practice. NewYork.: United Nations.

Ray, Manas., Chinmay Biswas. 2011. A Study on Ethnography of Communication: A discourse Analysis with Hymes ‘speaking model’. Journal of Education and Practice. 2 (6). http://www.iiste.org.

Rezvanpour, Bayat. (2017). Determining effective urban design factors within the branding strategy due to brand city spaces and evaluating city spaces by comparing them to the presented factors. A case study of ChaharBagh Avn, Isfahan, Iran. Energy Procedia 115, 6-17.

Samovar, Porter, McDaniel. (2010). Komunikasi Lintas Budaya: Communication Between Cultures. Jakarta: Salemba Humanika.

Singh, Kalafatis, Ledden. (2014). Consumer perceptions of cobrands: the role of brand poistioning strategies. Marketing Intelligence & Planning. 32 (2) 145-159.

Triyono, Agus. (2012). Inovasi Kota Semarang Membangun Citra Melalui Strategi The Amazing City of Java. Proceeding Strategi Communication Branding di Era Industri Kreatif. ISBN. 978-602-203-124-0, 93-105.

Zenker, Braun, Petersen. (2017). Branding the destination versus the place: The effects of brand complexity and identification for residents and visitors. Journal of Tourism Management. 58, 15-27.

Published
2018-06-25
Section
Articles